Record The Journey and Thoughts

Saturday 16 September 2006

Meraih Berkah Ramadhan


Ramadhan sebentar lagi...

Menarik apa yang dilakukan para sahabat dalam menata kehidupannya setiap tahun. Kalau dalam dunia pendidikan dikenal istilah tahun ajaran, maka tahun ajaran hidup mereka diawali dan diakhiri pada bulan Ramadhan. Seperti diungkap Mualla bin Fadhl, mereka membagi dua belas bulan menjadi dua bagian. Enam bulan pertama mereka memohon kepada Allah agar bisa mendapati bulan Ramadhan dan bisa menjalankan ibadah di dalamnya dengan baik. Sedangkan, pada enam bulan kedua, mereka memohon kepada Allah agar puasa dan semua ibadah yang dilakukan pada bulan tersebut diterima. Ramadhan dijadikan masa pembuktian ibadah lima bulan sebelumnya, sekaligus sebagai masa persiapan menempuh hidup di enam bulan sesudahnya. Wajar bila sahabat menjadikan Ramadhan sebagai munthalaq kurikulum hidup. Pada bulan ini, Allah SWT memberikan berbagai keistimewaan yang tidak diberikan di bulan-bulan lain.


Keistimewaan Ramadhan

Pertama, pintu surga dibuka, sedangkan pintu neraka ditutup.
Disabdakan, Jika telah datang bulan Ramadhan, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup (HR Bukhari). Hadis ini bisa dipahami apa adanya, yakni pintu surga memang betul-betul dibuka dan pintu neraka ditutup. Atau bisa dipahami bahwa peluang masuk surga begitu besar, karena pada bulan ini, Allah SWT mensyariatkan banyak ibadah yang dapat membawa seseorang ke surga. Sebaliknya, peluang masuk ke neraka kecil, karena peluang bermaksiat kecil. Kedua tafsiran ini bisa diterima.

Kedua, setan dibelenggu.
...dan setan-setan pun dibelenggu. (HR Bukhari). Kalau setan dibelenggu, namun tidak demikian dengan hawa nafsu. Sehingga, potensi melakukan dosa tetap ada, walaupun tidak sebesar di bulan-bulan lain.

Ketiga, meningkatnya derajat ibadah.
Di dalam bulan ini, Allah SWT melipatgandakan derajat ibadah. Satu ibadah wajib dilipatgandakan menjadi tujuh puluh kali ibadah wajib di bulan lain, dan ibadah sunnah dinilai ibadah wajib.

Disabdakan, Barangsiapa bertaqarrub kepada-Nya (di bulan Ramadhan) dengan suatu kebaikan, ia bagaikan melakukan suatu kewajiban di bulan lainnya. Barangsiapa melakukan suatu kewajiban pada bulan ini, maka ia sama dengan orang yang melakukan tujuh puluh kali amalan wajib di bulan lainnya." (HR Ibnu Khuzaimah). Dalam hadis lain dikemukakan satu tasbih di bulan ini sepadan dengan seribu kali tasbih di bulan lain (HR Tirmidzi).

Keempat, dosa-dosa sebelumnya dihapus.
Segala macam ibadah yang dilakukan di bulan Ramadhan menggugurkan dosa. Seperti shalat dan puasa. Mengenai shalat, Rasulullah SAW bersabda, shalat lima waktu, dari Jumat ke Jumat berikutnya, dari Ramadhan hingga Ramadhan berikutnya adalah penghapus dosa-dosa di antaranya, apabila ditinggalkan dosa-dosa besar (HR Muslim). Tentang puasa, Rasul bersabda, Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan dengan keimanan dan mengharap ridha Allah, akan diampuni dosa-dosanya yang terdahulu (Muttafaq 'Alaih).

Makna Ramadhan

Agar Ramadhan bermakna, kita harus bersiap diri menyambut kedatangannya. Ada beberapa persiapan yang bisa dilakukan:

Pertama, memupuk kerinduan dan kecintaan terhadap Ramadhan.
Salah satunya dengan berdoa. Rasul mencontohkan sebuah doa menjelang Ramadhan, Allahumma baarik lanaa fii rajaba wa sya'baan, wa ballighnaa Ramadhaan. Ya Allah berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya'ban, dan sampaikanlah kemi pada bulan Ramadhan.

Kedua, menyiapkan diri dengan baik.
Hati, akal dan fisik harus dipersiapkan. Hati dipersiapkan dengan memperbanyak ibadah, seperti shalat sunnah, saum sunnah, dzikir, dsb. Diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW memperbanyak saum sunnah sebulan sebelum Ramadhan. Diceritakan 'Aisyah, Saya tidak melihat Rasulullah menyempurnakan saumnya kecuali di bulan Ramadhan. Dan saya tidak melihat dalam satu bulan yang lebih banyak saumnya kecuali pada bulan Sya'ban (HR Muslim).

Akal dipersiapkan dengan mendalami berbagai ilmu yang terkait dengan Ramadhan. Ilmu dan keikhlasan menjadi faktor penentu diterima tidaknya sebuah amal. Demikian pula ibadah Ramadhan. Tanpa ilmu seseorang berpotensi melakukan kesalahan. Ia menganggap bahwa ia sedang beribadah yang benar, padahal sebaliknya. Fisik juga harus dipersiapkan dengan menjaga kesehatan, kebersihan, olahraga dll. Sehat itu penting karena orang sakit tidak bisa menjalani Ramadhan dengan optimal. Padahal keberkahan Ramadhan dapat diraih, apabila ia mampu beribadah dengan optimal. Tidak lupa, harta juga harus dipersiapkan. Jangan sampai, kekhusyukan ibadah terganggu oleh kesibukan mencari nafkah. Apalagi sampai menganggu sepuluh akhir Ramadhan yang sangat berkah.

Ketiga, merencanakan peningkatan prestasi ibadah dibanding Ramadhan yang lalu.
Buat perencanaan global dan rinci. Tentukan target tiap-tiap ibadah, misalnya khatam Alquran dua kali, menghafal tiga surat panjang, dsb. Selain untuk diri sendiri, buat pula perencanaan aktivitas sosial yang positif seperti memberi makanan pembuka bagi orang miskin, buka bersama dengan anak yatim, mengadakan pengajian Nuzulul Quran, memperbaiki hubungan keluarga, dan lainnya.

Dengan menyiapkan segala sesuatu sebelum kedatangannya, mudah-mudahan kita bisa mencicipi hidangan Allah pada bulan Ramadhan sekaligus meraih keberkahannya. Sebab kesuksesan sebuah perbuatan sangat ditentukan oleh jelasnya tujuan dan matangnya persiapan.

Wallaahu a'lam.

*dari republika

5 Comments:

Silakan isi kolom komentar dengan mencantumkan ID Anda
(Twitter, FB, IG, eMAIL). Terimakasih